Minggu, Maret 16, 2014

JEJAK EKOLOGIS

Nama : EDWIN ALDRIN SAPUTRA
NPM : 13.13101.10.27

Dosen Pembimbing : Prof. Dr. Ir. H. SUPLI EFFENDI RAHIM, M.Sc

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-BAsXo3NvNdda_TNYR3FMu7ygoGSmFwahkfdxieo4xarN2dfOKfxcb92BHhnT9PwmJ-Q4XxMMwWFXkjFlvO5ti_L_fXWTNgWlKaH8HdW4cdtdrSJO2JlwWBVT6XhXwioUwdlwP6cJP4s/s1600/je.jpg 

 
Istilah Ecological Footprint (jejak ekologi) memang tidaklah sepopuler istilah konservasi. Sebagai sebuah metodologi, Ecological Footprint diperkenalkan oleh para pencinta lingkungan sebagai upaya meyakinkan masyarakat luas atas dampak gaya hidup manusia dalam mempengaruhi dan mereduksi langsung kemampuan bumi dalam menyediakan sumber daya alam, baik di darat maupun laut, yang mempunyai ekosistem produktif terhadap alam dan mengkomunikasikannya secara kuantitatif dalam bentuk yang mudah dipahami.
Untuk mengukur dan mengetahui bagaimana dampak gaya hidup kita, dapat dilakukan dengan cara mengikuti ecological footprint quiz (kuis jejak ekologi)  Atau bisa juga dengan menghitungnya melalui Ecological Footprint Calculator (kalkulator jejak ekologi).  Metode ini mempermudah kita melihat hubungan sebab akibat dari tindakan atau gaya hidup manusia terhadap kemampuan bumi dalam menopang kebutuhannya di dunia ini secara kuantitatif. Sehingga kita dapat mengetahui seberapa boros, seberapa banyak kita menghasilkan limbah dan seberapa berbahaya limbah yang kita hasilkan, hingga menyangkut penjumlahan total lahan yang diperlukan untuk menyediakan makanan, perumahan, transportasi, bahan-bahan konsumsi yang lain, serta pelayanan yang kita gunakan.
Namun tidak semua lahan bisa berfungsi untuk menunjang kehidupan kita secara berkelanjutan. Oleh karena itu Jejak Ekologi hanya mengukur lahan yang mampu berproduksi dan mengelola limbah secara alami, atau yang disebut lahan produktif biologis. 

***
Sebuah pendekatan yang baru-baru ini populer dengan Ecological Footprint menjadi alat ukur yang mengkaji tingkat konsumsi manusia dan dampaknya terhadap lingkungan. Konsep "jejak kaki ekologis" (Ecological Footprint) diperkenalkan pada tahun 1990-an oleh William Rees dan Mathis Wackernagel (Wackernagel and Rees, 1996).
Ecological Footprint adalah alat bantu untuk dapat kita pergunakan dalam mengukur penggunaan sumberdaya dan kemampuan menampung limbah dari populasi manusia dihubungkan dengan kemampuan lahan, biasanya dinyatakan dalam hektar.
Ecological Footprint dapat digunakan sebagai ukuran prestasi kita dalam mendukung keberlanjutan bumi ini, dan menjadi indikator terbaik dan efisien dalam mendukung keberlanjutan kehidupan. Alat ukur ini menjadi penting dalam konteks untuk mengetahui apakah kegiatan konsumsi yang kita lakukan masih dalam batas daya dukung lingkungan ataukah sudah melewatinya, dengan kata lain masih dalam surplus ataukah sudah dalam defisit (penurunan kualitas) ekologi.
Ecological Footprint secara sederhana dapat ditentukan dengan menelusuri berapa besarnya konsumsi sumberdaya alam (baik berupa produk ataupun jasa), serta sampah yang kita produksi dan disetarakan dengan area permukaan bumi yang produktif secara biologis dalam satuan luasan hektar (ha). Istilah jejak kaki atau footprint telah dikenal secara umum dalam pengelolaan sumber daya alam di dunia internasional sebagai metode perhitungan kuantitatif yang menunjukkan pemanfaatan sumber daya alam oleh manusia dalam kehidupannya sehari-hari. Saat ini telah dikenal tiga jenis footprint dalam kehidupan sehari-hari, yaitu 1) ecological footprint, 2) carbon footprint dan 3) water footprint. Satuan dan sumber daya yang dianalisis secara spesifik oleh masing-masing jenis footprint tersebut berbeda-beda.  
Ecological footprint difokuskan untuk menghitung penggunaan lahan bioproduktif yang digunakan untuk menyokong populasi dunia dan dinyatakan dalam satuan hektar. Perhitungan carbon footprint dititikberatkan pada penghitungan penggunaan energi yang dinyatakan dalam volume emisi karbondioksida (CO2) menggunakan satuan ton. Water footprint adalah jenis footprint yang terakhir. Footprint ini menghitung penggunaan air untuk menyokong kehidupan manusia yang dinyatakan dalam satuan volume air (M3).
Konsep ecological footprint (EF), atau jejak kaki ekologis, pertama kali diperkenalkan oleh William Rees dan Martin Wackernagel pada tahun 1990-an. Konsep ini pada dasarnya dikembangkan sebagai usaha pencarian indikator untuk pembangunan berkelanjutan dan khususnya diharapkan dapat menjadi metode untuk mengukur secara kuantitatif mengenai hubungan perlakuan manusia terhadap bumi dengan daya dukung yang dimiliki oleh bumi itu sendiri (Wackernagel and Rees, 1996). Konsep ini menegaskan bahwa hampir semua tindakan dan perilaku hidup manusia, misalnya perilaku konsumsi dan transportasi, akan membawa dampak ekologis atau dampak bagi lingkungan (Hoekstra, 2007). Pendekatan EF dapat digunakan untuk mendidik masyarakat mengenai penggunaan sumber daya alam yang berlebihan dan kemampuan daya dukung bumi untuk menyokong keberlanjutan hidup mereka. Pendekatan ini dapat digunakan sebagai indikator keberlanjutan. Pendekatan ini juga memberikan penjelasan mengenai dampak perilaku manusia terhadap lingkungan dan dapat menghubungkannya dengan daya dukung bumi.
Jenis analisis footprint yang kedua adalah Analisis carbon footprint (CF). Carbon footprint adalah indikator mengenai dampak aktivitas manusia terhadap iklim global yang dinyatakan dalam jumlah gas rumah kaca (GRK) yang diproduksi. Carbon footprint secara konseptual menggambarkan kontribusi individu atau negara terhadap pemanasan global. Carbon footprint dapat menunjukkan total emisi karbondioksida (CO2) dan gas rumah kaca lainnya yang diemisikan pada seluruh proses untuk menghasilkan produk atau jasa (Hoekstra, 2008).
jenis analisis footprint yang terakhir adalah analisis water foootprint (WF). Water footprint dikembangkan oleh Hoekstra pada tahun 2002. Water footprint dapat merepresentasikan jumlah volume air tawar yang dibutuhkan untuk menjaga keberlanjutan suatu populasi, seperti yang diungkapkan oleh Madrid et alThe water footprint represents the freshwater volume required to sustain a population” (Madrid et al., not dated) 
Hoekstra dan Chapagain (2004) dalam laporan hasil penelitiannya mendefinisikan water footprint individu, bisnis atau negara adalah total volume air tawar yang digunakan untuk memproduksi makanan dan jasa yang dikonsumsi oleh individu, bisnis atau negara. Nilai water footprint umumnya dinyatakan dalam satuan volume air yang digunakan setiap tahunnya. Saat ini, water footprint telah berkembang menjadi alat analisis yang digunakan untuk mengarahkan perumusan kebijakan kearah isu-isu mengenai keamanan air dan penggunaan air yang berkelanjutan di negara maju (Hoekstra, 2008).
Ecological Footprint dibutuhkan untuk menerjemahkan semua efek ekologikal dari aktivitas manusia pada lahan yang digunakan manusia untuk memproduksi barang  termasuk kandungan limbah yang dihasilkan.


MENGHITUNG JEJAK EKOLOGI PRIBADI
Jejak Ekologis
No.
Hal
Skor
A.
1.
Transportasi
Dengan apa anda bepergian hari ini?
a.)    Berjalan
b.)    Bersepeda
c.)    Naik Angkutan Umum
d.)   Menumpang
e.)    Naik Kendaraan Pribadi

(Kalikan setiap skor dengan berapa sering hal tersebut dipakai dalam satu hari dan kemudian ditotalkan)

0
5
10
15
30


Sub–Total : 30 X 2 = 60
B.
1.
Pemakaian Air
Berapa banyak air yang dipakai ?
a.)    Tidak mandi
b.)    Mandi, 1-2 menit
c.)    Mandi, 3-6 menit 2x 10
d.)   Mandi, 10 menit
e.)    Mandi dengan satu bath tub penuh
f.)     Mandi dengan air ½ bath tub
g.)    Mandi dengan air bekas orang lain
h.)    Menggosok gigi dengan air keran tetap mengalir
i.)      Mencukur kumis / jenggot dengan air kran tetap mengalir


0
5
20
20
20
10
10
5
5

Sub–Total : 20
C.
1.




2.



3.



4.



5.
Pakaian
Apakah anda memakai baju lebih dari sekali sebelum dicuci?
a.)    Sering
b.)   Kadang-kadang 2x 5
c.)    Tidak pernah

Saya menggunakan pakaian bekas (diperbaiki)
a.)    Ya
b.)    Tidak

Saya memperbaiki baju saya sendiri
a.)    Ya
b.)   Tidak

50% dari baju saya adalah baju turunan
a.)    Ya
b.)   Tidak

Saya membesihkan dan mengeringkan baju
a.)    None
b.)    1-5 lembar
c.)    > 6 lembar


 0
10
10


-5
0


-5
0


-5
0


0
10
20

Sub–Total : 30
D.



1.




2.






3.
Rekreasi
Mengenali permainan, olahraga, dan aktivitas dimana anda terlibat, pada hari biasa diwaktu panjang

Seberapa banyak alat yang diperlukan
a.)    Tidak ada atau sedikit
b.)   Beberapa
c.)    Cukup banyak

Seberapa luas lahan yang digunakan untuk bermain dilapangan, dataran es, kolam renang, untuk memenuhi kebutuhan rekreasi anda?
a.)    Tidak ada atau sedikit
b.)    Sedang  (< 1 hektar)
c.)    Cukup besar (> 1 hektar)

Saya menghabiskan uang hari ini untuk belanja (pakaian, baju, peralatan olahraga, dll)
a.) Tidak ada
b.) $5  
c.) $10  
d.) >$10





0
10
20




0
10
20



0
10
20
1 pt. per dollar

Sub–Total : 30
E.
1.





2.




3.



4.




5.




6.

Makanan
Berapa porsi daging yang dimakan sehari ?
a.)    0
b.)   1porsi
c.)    2 porsi
d.)   3 porsi

Seberapa banyak makan bersisa dipiring ?
a.)    Tidak ada
b.)   Sedikit
c.)    Cukup banyak

Saya mengkonsumsi sisa campuran sayur dan buah
a.)    Ya
b.)   Tidak

Makanan yang saya makan adalah makanan lokal?
a.)    Semuanya
b.)   Beberapa
c.)    Tidak ada

Makanan yang saya makan adalah produk organik?
a.)    Semuanya
b.)   Beberapa
c.)    Tidak ada

Makanan yang dikonsumsi dibungkus kertas / plastik ?
a.)    Tidak
b.)   Beberapa
c.)    Semuanya


0
10
20
30


0
5
10


0
10


0
10
20


0
10
20


0
10
20

Sub–Total : 55
F.
1.
Sampah
Jika saya membuang seluruh sampah hari ini, seberapa besar tempat sampahnya ?
a.)    Peti kayu
b.)   Kotak sepatu
c.)    Secangkir
d.)   Tidak ada sampah



30
40
5
0

Sub–Total : 5
Total 1 = 200
G.
Ruang Tinggal
Hitung dalam satuan meter persegi ruang indoor yang diperlukan dalam keseharian, termasuk semua ruangan dirumah (termasuk garai, sekolah (kantin, kelas), kantor (ruang kantor pribadi, area kerja, toilet). Bagi luas total ruangan dengan jumlah orang didalamnya
Contoh :
Living Space Averages         Educ.Space / Per Student
Ave Dorm Space – 25 sq m  Classroom and Lab – 30 sq m
Ave Apt. Space  - 35 sq m   Administration – 3 sq m
                                         Other – 5 sq m
Add up “a-d”  for “Total Square Meters”
( 1 sq. meter = 10 sq. feet)
a)      “Home” sq. meters = 240
Divided by # of people = 30
b)      Schools sq. meters =_________________ sq. meters
Divided by # of people = _____________ sq. meters
c)      Office sq. meters ____________________ sq. meters
Divided by # of people _______________ sq. meters
d)     Other sq. meters = ________________ sq. meters
Divided by # of people = ___________ sq. meters




















Total 2 = 30

TOTAL KESELURUHAN  = (Total 1 + Total 2) X 3
= (200 + 30) X 3 = 690

Anda telah menghitung total dari “tiga” tipikal dari keseharian anda. Sekarang ubah total keseluruhan tersebut menjadi jejak ekologis pribadi anda, menggunakan rumus dibawah :
Total keseluruhan dibagi 100 = Jejak Ekologis anda dalam satuan hektar
Jejak Ekologis Pribadi = 690 / 100 = 6,9 hektar



Jadi Ecological Footprint dapat digunakan sebagai ukuran kemampuan kita dalam mendukung keberlanjutan bumi ini, dan menjadi indikator terbaik dan efisien dalam mendukung kelangsungan kehidupan. Alat ukur ini menjadi penting dalam konteks untuk mengetahui apakah kegiatan konsumsi yang kita lakukan masih dalam batas daya dukung lingkungan ataukah sudah melampaui ambang, dengan kata lain masih dalam surplus ataukah sudah dalam defisit (penurunan kualitas) ekologi.

***

Daftar Pustaka

Dirjen ESDM. 2010. Kebijakan Penyediaan, Pemanfaatan dan Tata  Niaga Bahan
Bakar Nabati (Biofuel) Sebagai Bahan Bakar Lain. Makalah Seminar. FP UB-Dirjen ESDM Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral, 15 Januari 2010
"Global Footprint Network Homepage." Global Footprint Network. www.footprintnetwork.org
Hairiah.K,Mein e van Noordwijk, and Stephan Weise. Sustainability of Tropical
Land Use Systems After Forest Conversion 
Monfreda, C., M. Wackernagel and D. Deumling. "Establishing national natural capital
accounts based on detailed Ecological Footprint and biological capacity assessments." Land Use Policy 21 (2004): 231-246.
Scherr, S.J, J.C. Milder, and M. Inbar. 2007. Paying Farmers for Stewardship. In
Scherr, S.J and J.A. McNeely (Editors). Farming with Nature: Science and
Practice of Ecoagriculture. IslandPress. Washington.
Suharto, E. 2009. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat: Kajian Strategis
Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial. Rafika Aditama.


Semoga Bermanfaat